MATARAM,LINTASNTB. Oxfam di Indonesia telah memilih tujuh Perempuan Pejuang Pangan sebagai duta dalam memberikan inspirasi bagi para penghasil pangan skala kecil dan pendukung kedaulatan pangan masyarakat di Indonesia. Penganugerahan diberikan kepada tujuh perempuan pejuang pangan di kota Mataram pada Kamis ini.

Sebanyak tujuh perempuan pejuang pangan telah dipilih dan berasal dari beberapa wilayah di Indonesia oleh para mitra Oxfam di Indonesia. Mereka utamanya adalah  penghasil pangan skala kecil seperti petani dan nelayan perempuan yang berasal dari pedesaan, pesisir atau perkotaan. Mereka menghasilkan pangan dan aktif dalam kegiatan pertanian atau perikanan dan menginspirasi serta memberdayakan perempuan petani atau nelayan lain.

“Program Perempuan Pejuang Pangan ini berupaya memberi pengakuan atas peran dan mengapresiasi  perempuan sebagai kelompok rentan namun mereka terbukti sebagai kelompok yang tangguh, dan berdaya untuk peningkatan ketahanan pangan,” kata Widiyanto, Manager Program Hak Atas Pangan Oxfam di Indonesia.

Tujuh duta perempuan pejuang pangan ini memberdayakan sekitar 500 kepala rumah tangga petani dan nelayan kecil dalam menghasilkan pangan atau setara bagi pemenuhan 2500 jiwa  kebutuhan pangan mereka.

Mereka juga telah berperan dalam mempertahankan sumber pangan lokal yang sesungguhnya telah menjadi bagian tradisi pangan lokal sebagai sumber pangan dan tradisi kebudayaan lokal di tempat mereka tinggal yang berada di kawasan terpencil di Indonesia.

Ketujuh perempuan pejuang pangan yang terpilih pada 2018 ini berasal dari Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggaran Timur, Sulawesi Tengah, Maluku dan Jawa Tengah sebagai program yang diselenggarakan bersama Oxfam di Indonesia dan Kementerian Sosial Republik Indonesia.

Program ini juga berupaya mendorong terciptanya kesetaraan perempuan seperti dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan serta meningkatkan pengetahuan serta perlunya mendorong pengakuan atas kesetaraan perempuan pada ranah publik.

Program penghargaan diselenggarakan setiap dua tahun sekali ditujukan kepada para perempuan penghasil pangan skala kecil yang memberi sumbangan kepada komunitas mereka; perempuan yang tangguh dalam menghadapi situasi rentan lingkungannya; perempuan yang menggerakan komunitas untuk menghasilkan pangan; perempuan yang memberi inspirasi bagi aktifitas pertanian dalam menghadapi kerentanan iklim serta perempuan yang berhasil mempertahankan tradisi pangan lokal sebagai sumber pangan dan tradisi kebudayaan lokal di kawasan terpencil di Indonesia.(cand)