HUT Santri 2019, Santri Sebagai Penyampai Pesan Perdamaian

LOMBOK BARAT – Meneruskan tema tahun 2018, peringatan Hari Santri Nasional 2019 kali ini mengusung tema "Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia". Isu perdamaian diangkat berdasar fakta bahwa sejatinya pesantren adalah laboratorium perdamaian. Sebagai laboratorium perdamaian, pesantren merupakan tempat menyemai ajaran Islam rahmatan lil alamin.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Lombok Barat H. Moh. Taufiq saat membacakan sambutan Sekretaris Jendral Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia pada upacara peringatan Hari Santri Nasional ke-5 tahun 2019 di Lapangan Kantor Bupati Lombok Barat, Selasa (22/10).

Di samping alasan pesantren sebagai laboratorium perdamaian, terpilihnya Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) sejak 2 Januari 2019 hingga 31 Desember 2020 dimana bargaining position Indonesia dalam menginisiasi dan mendorong proses perdamaian dunia semakin kuat dan nyata, menjadi momentum bagi seluruh elemen bangsa. Terutama bagi kalangan santri Indonesia, agar turut berperan aktif dan terdepan mengemban misi dan menyampaikan pesan-pesan perdamaian di dunia internasional.

Taufiq mengatakan, peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2019 ini juga terasa istimewa dengan hadirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.

“Dengan Undang-Undang tentang Pesantren ini memastikan bahwa pesantren tidak hanya mengembangkan fungsi pendidikan, tetapi juga mengembangkan fungsi dakwah dan fungsi pengabdian masyarakat,” katanya.

“Dengan Undang-Undang ini, negara hadir untuk memberikan rekognisi, afirmasi, dan fasilitasi kepada pesantren dengan tetap menjaga kekhasan dan kemandiriannya. Dengan Undang-Undang ini pula tamatan pesantren memiliki hak yang sama dengan tamatan lembaga lainnya,” sambungnya.

Sementara itu, Kepala Kemenag Lombok Barat H. Jaelani yang ditemui selepas apel juga mengharapkan selain sebagai penyampai pesan perdamaian, santri juga nantinya bisa berkontribusi dalam pembangunan daerah.

Santri juga disebutkan Jaelani sebagai pihak yang yang mengemban amanat untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia Indonesia, khususnya di Lombok Barat. Tercatat ada sekitar 102 Pondok Pesantren (Ponpes) yang aktif dengan total 21.645 santri di Lombok Barat.

“Kita berharap kontribusi Santri terhadap pembangunan di daerah Kabupaten Lombok Barat ini semakin nyata. Khususnya di bidang pendidikan,” harapnya.

Peringatan Hari Santri ini juga dirangkai dengan penyerahan bantuan Pendidikan Kesetaraan dari Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI senilai Rp. 80 juta. Penyerahan diwakili oleh Ponpes Al-Rohmah Nahdatul Ulama Bonder Lombok Tengah.

Selanjutnya penyerahan bantuan Operasional Pendidikan Ponpes dari Kantor Kemenag NTB kepada kepada Ponpes Salafiyah Abu Dzar Al-Gifari Kediri dan Ponpes Ma'had Qur'an Wal Hadist Al-Aziziyah Kapek Gunung Sari Lombok Barat, masing-masing sebesar Rp. 13 juta.

Selain itu juga ada Penyerahan Izin Operasional Pondok Pesantren yang masing-masing diterima oleh Ponpes Zainul Hafiz At-Taufiq Tanjung Menangis Desa Sepi, Kecamatan Sekotong Lombok Barat, Ponpes Darussalam Tanaq Beak Narmada, Ponpes Palapa Nusantara Lombok Timur, Ponpes Bumi Nusantara Lombok Timur, Ponpes  Al-Majidiah Lombok Timur dan Ponpes Hifzul Wathan Lombok Timur serta Ponpes Sabilul Rosyad Lombok Timur.

Selain dihadiri oleh perwakilan santri-santri dari 102 pondok pesantren se-Lombok Barat, turut hadir juga para alim ulama, elemen masyarakat bersama perwakilan dari Kantor Wilayah Kemenag NTB dan jajaran Forkopimda Lombok Barat.
LNG02

0 Response to "HUT Santri 2019, Santri Sebagai Penyampai Pesan Perdamaian"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel