Lintas NTB, Sumbawa Barat — Dari sisa nasi dingin di piring, kulit sayur yang terbuang, hingga daun kering di halaman rumah—siapa sangka semua itu bisa menjadi “emas hijau” yang menumbuhkan harapan baru bagi masyarakat Desa Sekongkang Atas, Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat. Di tangan mereka, sampah bukan lagi aib yang mencemari, melainkan rezeki yang memberi kehidupan.
Di sebuah bangunan sederhana yang mereka sebut Rumah Maggot, lahir perubahan besar. Di sana, larva mungil yang dikenal dengan nama maggot—anak dari lalat tentara hitam (Black Soldier Fly)—menjadi pemeran utama. Ia lahap memakan limbah organik, lalu mengubahnya menjadi pakan ternak kaya protein, pupuk yang menyuburkan tanah, bahkan sumber penghasilan yang tak pernah diduga.
Sampah Jadi Tabungan, Maggot Jadi Berkah
Kini, alih-alih membuang sisa makanan ke jalan atau membiarkannya membusuk, warga Sekongkang Atas memilih menyimpannya. Setiap minggu, sampah organik itu diambil dari rumah-rumah, ditimbang, lalu dicatat dalam buku tabungan. Dari satu ember, lahirlah nilai kecil berupa uang—memang tak seberapa, tapi cukup untuk menumbuhkan kesadaran bahwa sampah bisa bernilai.
“Dulu, sampah dapur sering jadi masalah. Sekarang, kami bahkan menunggu giliran ember kami diangkut,” ujar Qomaruddin, Ketua Pengelola Rumah Maggot Sekongkang, yang hampir dua tahun terakhir mendampingi warga dalam mengelola limbah organik.
Dalam sebulan, rumah maggot mampu menghasilkan 100 kilogram maggot kering, dengan nilai jual mencapai Rp3,5 juta. Tidak hanya memberi tambahan penghasilan, program ini juga membersihkan lingkungan desa dari timbunan sisa makanan yang berpotensi jadi sumber penyakit.
Kolaborasi yang Menjadi Inspirasi
Rumah Maggot Sekongkang bukan sekadar inisiatif warga. Ia lahir dari kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan PT Amman Mineral (AMMAN). Perusahaan tambang ini memberi dukungan berupa bangunan 21 x 9 meter, mesin pencacah, mesin pengering, kendaraan angkut, hingga 600 set perlengkapan budidaya. Sementara Deaa menyediakan lahan, tenaga, dan semangat untuk bergerak bersama.
Hasilnya luar biasa. Dari Maret hingga Agustus 2025, tercatat 13.248 kilogram sampah organik berhasil dikelola. Dari jumlah itu, lahirlah 2.675 kilogram maggot dengan nilai lebih dari Rp 31 juta.
Jejak Hijau dari Desa Lingkar Tambang
Data KLHK pada 2023 menunjukkan, 41,4% sampah nasional adalah sisa makanan. Angka itu menjadi alarm betapa seriusnya persoalan limbah organik. Di Sekongkang, alarm itu dijawab dengan aksi nyata: menjadikan maggot sebagai penyelamat.
Program ini kemudian meluas ke desa-desa lingkar tambang lainnya—Desa Pasir Putih di Kecamatan Maluk, dan Kecamatan Jereweh. Dengan skema bank sampah, warga bisa menukar sampah dengan uang, sementara maggot yang dihasilkan memenuhi kebutuhan pasar pakan ternak hingga ke Lombok.
Dari Desa, Untuk Dunia
Di balik tubuh mungilnya, maggot membawa pesan besar: bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil. Dari sisa nasi di meja makan, lahirlah gerakan ekonomi hijau. Dari ember-ember sederhana, tercipta kesadaran kolektif untuk menjaga bumi.
“Kami berharap maggot BSF Sekongkang Atas mampu memproduksi hingga 500 kilogram per bulan. Bukan hanya mengatasi sampah organik, tapi juga jadi usaha andalan masyarakat,” ujar Aji Suryanto, Senior Manager Social Impact AMMAN.
Seperti biji yang tumbuh di tanah subur, kesadaran warga Sekongkang Atas kini berkembang: sampah bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan baru. Di desa kecil itu, maggot bukan sekadar larva, melainkan simbol perubahan—bahwa bahkan dari sesuatu yang dianggap menjijikkan, bisa lahir harapan yang indah. (LNG05)





0 Comments
Silahkan Berkomentar, Bebas Tapi Sopan.